0
Dikirim pada 27 Januari 2009 di budaya

assalaamu’alaikum wr. wb.

Ajaran Islam penuh dengan keindahan. Keindahan yang dimaksud tentu bukanlah sebentuk pemujaan terhadap syahwat. Keindahan yang sedang kita bicarakan adalah sesuatu yang membuat hati tentram, bukannya malah gelisah karena didesak oleh hawa nafsu.

Kesempurnaan Islam itu sendiri sudah merupakan sebuah keindahan tiada taranya. Dalam ajaran Islam menyatu segala kebaikan. Di satu sisi, Allah SWT mengungkapkan firman-firman-Nya dalam Al-Qur’an dengan kata-kata yang amat indah bagaikan puisi. Di sisi lain, Al-Qur’an juga tidak hanya enak ‘dikunyah’ oleh kaum penyair, namun juga telah mencerahkan sekian banyak ilmuwan dengan isinya yang (ternyata) sangat bersesuaian dengan hasil penelitian-penelitian ilmiah. Meski demikian, Al-Qur’an bukanlah kitab puisi, bukan pula sebuah jurnal sains. Al-Qur’an adalah Al-Qur’an, yaitu sebuah bacaan terbaik yang bisa menghimpun semua kebaikan di dalamnya. Tidak ada yang bisa menulis dengan cara demikian kecuali hanya Allah saja.

Keseimbangan yang menakjubkan ini pun terpancar dalam sikap hidup umat Islam (yang memahami ajaran agamanya). Prajurit Viking dikenal kejam dan perkasa, dan mereka memang gila perang dan gemar mabuk. Prajurit Jepang yang menginvasi segenap Asia pada Perang Dunia II juga dikenal kejam dan harus secara konsisten ‘dihibur’ dengan kehadiran para geisha. Akan tetapi, hanya kaum mujahid-lah yang bisa diberikan deskripsi “prajurit di siang hari, rahib di waktu malam”. Dalam diri seorang Muslim sejati, terdapat keberanian seekor singa yang senantiasa siap bertempur, seorang rahib yang menenggelamkan dirinya di dalam ibadah, sekaligus seorang ilmuwan yang menemukan kebahagiaannya dalam menelaah fenomena-fenomena alam.

Salah satu keindahan yang paling terpancar dalam diri seorang Muslim adalah keindahan bahasanya, baik melalui tulisan maupun ucapan. Jika kita meneladani Rasulullah saw., maka hal ini adalah suatu hal yang amat wajar. Beliau memang dikenal sebagai pribadi yang amat halus budi pekertinya dan lembut hatinya. Kalimat-kalimat yang meluncur dari lidahnya pun penuh dengan cita rasa sastra yang tinggi, meskipun beliau tidak pernah menyandang gelar ‘sastrawan’ semasa hidupnya.

Tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam pun mengikuti kebiasaan ini. Sebenarnya tutur kata yang indah ini bukanlah hasil dari sebuah ‘ilmu merangkai kata’. Kata-kata indah itu bukanlah sebuah rayuan gombal, basa-basi atau janji muluk. Seseorang akan memilih dan merangkai kata-kata yang indah karena hati, pikiran dan perbuatannya dipenuhi oleh keindahan. Kita memulai segalanya dengan menyebut nama Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bukankah sangat wajar jika kemudian perbuatan itu menghasilkan sesuatu yang indah dan penuh kasih saying, karena memang dilakukan atas nama Dia yang memiliki nama Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim ?

Keindahan adalah bagian dari hidup seorang Muslim. Bertutur kata dengan cara yang indah adalah sebuah kewajaran, karena memang umat Islam diajarkan untuk mencintai keindahan. Puisi adalah salah satu cara untuk mengungkapkan keindahan bahasa semacam ini. Bait-bait syair yang diucapkan seseorang dapat menjelaskan bagaimana sikap dan pendiriannya tentang suatu hal. Simaklah bait puisi yang sering disitir oleh Hasan al-Banna berikut ini :

Tak kukenal tanah air selain Islam
Ada Syam di sana dan lembah Nil semacam
Setiap negeri tempat nama Allah diseru
Seluruh penjurunya kuhitung bagian relung negeriku

Bait puisi di atas dengan jelas menggambarkan ideologi nasionalisme sang pembacanya menurut pemahamannya sendiri. Inilah sebuah cara yang sangat indah untuk mengungkapkan sebuah pendirian yang amat kuat.

Kita juga dapat menemukan contoh-contoh lain di mana para pemuka umat Islam menggunakan untaian kata yang amat indah untuk menyampaikan maksudnya. Tersebutlah ustadz Muhammad Zahran, pemilik Madrasah Diniyah Ar-Rasyad di Mesir. Madrasah ini adalah salah satu tempat di mana Hasan al-Banna pernah menimba ilmu. Suatu hari, sang ustadz mengajukan sebuah pertanyaan pada seorang murid, dan murid tersebut belum bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Apakah sang ustadz mencela ketidakmampuannya? Tidak. Sebagai gantinya, beliau menghadiahkan sebait puisi yang diperintahkannya untuk ditulis dalam buku catatan sang murid.

Wahai kuda Allah
percepatlah lagi langkahmu
untuk mengambil pemuda ini
Wahai kuda Allah

Seorang guru yang baik tidak mencela ketidakmampuan muridnya. Dengan sebait puisi sederhana ini, ustadz Muhammad Zahran mendoakan agar muridnya segera ditambah ilmunya oleh Allah. Inilah buah dari kasih sayang yang meluap-luap dari dalam dadanya, kemudian meluncur dari lisannya.

Tidak terhitung pula banyaknya syair-syair kepahlawanan yang telah ditulis dengan pilihan kata yang amat manis terangkai. Semuanya merupakan hasil dari keindahan di dalam hati. Beginilah salah satu bait dari sebuah nasyid yang dilantunkan oleh para demonstran saat terjadinya Revolusi Mesir pada tahun 1919 :

Cinta negeri bagian dari iman
Ruh Allah memanggil kita
Jika kemerdekaan tidak menghimpun kita
Surga Firdaus adalah tempat kita bersatu

Manusia juga biasa bersajak untuk mengobati kerinduan akan kampung halaman, atau meneriakkan kesedihannya yang lirih ketika memikirkan keadaan negeri asalnya. Bilal bin Rabah ra. adalah seorang mantan budak yang kemudian menjadi salah seorang sahabat Rasulullah saw. yang tidak pernah diragukan lagi loyalitasnya. Berapa banyak yang ingat bahwa beliau juga memiliki cita rasa keindahan sastra yang sangat tinggi? Simaklah sajak kerinduannya terhadap tanah Mekkah, ketika ia tengah berhijrah ke Madinah :

O, angan,
masihkah mungkin ‘kan kulalui malam
pada lembah dan ada Izkhir mengitariku, juga Jalil
Masihkah mungkin kutandan gemericik air Mijannah
Atau Syamah menampak bagiku,
juga Thafil

Simaklah pula bagaimana Ahmad Syauqi, seorang penyair kenamaan di dunia Arab, menceritakan kepedihan hatinya menyaksikan runtuhnya Khilafah Islamiyah :

Lagu-lagu pesta menjadi sayu terdengar
Semakin samar terdengar di tengah gegap gempitanya pesta
Ia telah terbalut kain kafan pada malam perkawinan
Dikuburkan saat mentari pagi bersinar terang menyambut hari
Semua mimbar dan menara adzan berguncang karenamu
Seluruh kerajaan di segala penjuru pun menangis untukmu
India dan Mesir bersedih
Mereka menangis dengan derai air mata tak terbendungkan
Syam, Iraq dan Persia bertanya
Apakah khilafah telah dihapuskan dari muka bumi ini ?

Bisakah Anda merasakan keberanian para pejuang Ikhwanul Muslimin di Damaskus dari puisi yang digubah oleh ustadz Abdurrahman Sa’ati berikut ini?

Umayyah enggan kehilangan kehormatannya
Sepanjang masa, juga putra-putra Ghasan
Siapakah yang hendak berlagak congkak di Jalaq Najib
Siapa pula yang hendak berlagak congkak di bumi Harran
Mereka tak sudi terhina di dunia
Bagi mereka, kemuliaan hidup dan mati adalah sama
Mereka tak tahan membiarkan kezaliman
Yang dilakukan oleh tirani manusia maupun jin

Bahkan dalam kesulitan yang paling berat sekalipun, seorang Muslim bisa merasakan keindahan tersebut dalam relung hatinya. Simaklah puisi seorang penyair berikut ini :

terima kasih kepada Allah
atas segala ujian yang menimpa
di kala itu aku dapat membedakan
lawan dari kawan

Lebih ekstremnya lagi, bahkan di tengah deraan siksa di penjara Thur, seorang ikhwan bisa menggubah sebuah puisi di tengah gelap dan dinginnya malam, sebagaimana yang disitir oleh Yusuf al-Qaradhawi :

Wahai orang yang terlelap dalam buaian tidurnya
bangunlah dan ingatlah kepada Dzat Yang tidak pernah tidur
Tuhanmu mengajakmu untuk terus berdzikir kepada-Nya
sedang engkau dibuai oleh bunga-bunga tidur

Banyak pula Muslim yang melontarkan bait-bait syair untuk mengungkapkan identitas dirinya. Tidak ada yang lebih gamblang sekaligus menggetarkan dada selain cara pengungkapan jati diri sebagaimana ucapan seorang sahabat Rasulullah saw. sebagai berikut :

Jangan panggil aku
kecuali dengan seruan, “Hai hamba-Nya,”
karena itulah semulia-mulia namaku

Atau ketika seorang sahabat lainnya ditanya mengenai nasabnya ; apakah ia berasal dari kabilah Qais atau Tamim. Bagaimanakah jawabnya?

Islamlah ayahku,
aku tidak punya ayah selain itu
biarlah mereka bangga dengan Qais atau Tamim

Manusia juga gemar merangkai kata indah ketika hendak ber-munajat kepada Yang Maha Indah. Ini adalah sebuah kewajaran, karena ketika kita mengingat Allah, maka segalanya pasti nampak indah. Kehendak Allah semuanya indah, namun hawa nafsu manusialah yang membuatnya berpikir yang tidak-tidak terhadap-Nya. Beginilah seorang arif di masa lalu bersyair :

Begadangnya mata ini, Rabbi,
jika bukan untuk wajah-Mu
adalah sia-sia

Dan isak tangisnya
jika bukan lantaran kehilangan diri-Mu Ilahi
adalah kebatilan belaka

Beginilah Hasan al-Banna mengobarkan semangat kaum pemuda, khususnya mahasiswa, untuk terjun ke dalam dunia dakwah :

Mendorong kita untuk terjun dengan dakwah ini...
dakwah yang tenang, namun lebih gemuruh
dari tiupan angin topan yang menderu...
dakwah yang rendah hati, namun lebih perkasa
dari keangkuhan gunung yang menjulang...
dakwah yang terbatas, namun jangkauannya
lebih luas dari belahan bumi seluruhnya

Di kalangan penyair Indonesia pun banyak sekali sastrawan yang memberikan warna ‘keindahan Islam’ pada sajak-sajaknya. Sebagian bahkan tidak pernah bisa melepaskan diri darinya. Semakin dalam keimanan terpancang dalam hatinya, maka ia semakin tidak bisa lepas dari pengaruh keindahan Islam. Simaklah penggalan bait puisi ‘Sajadah Panjang’ gubahan Taufiq Ismail yang sudah terkenal ini :

Diselingi sekedar interupsi
Mencari rezeki, mencari ilmu
Mengukur jalan seharian.
Begitu terdengar suara adzan
Kembali tersungkur hamba.

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud tak lepas kening hamba
Mengingat Dikau
Sepenuhnya

Dan meskipun tidak menggunakan pilihan kata yang khas menggambarkan nilai-nilai ajaran Islam, namun Taufiq Ismail tetap tidak bisa menyembunyikan ajaran Islam dalam dirinya. Ketika ia menulis puisi yang tidak bertemakan religius sekalipun, hal ini tetap tergambar jelas, misalnya seperti pada penggalan puisi ‘Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini’ :

Tidak ada pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpukuh juta yang bertahan hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya diam inikah yang namanya, merdeka
Kita yang tak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Simaklah pula sebuah puisi karangan Helvy Tiana Rosa yang berjudul ‘Fi Sabilillah’ berikut ini :

Jangan dilarang
orang yang melayang pandang
ke sabilillah
: ia sudah tahu resah nyata semesta
seringai malam bumi kita

jangan ditahan
orang yang ingin melemparkan diri
ke sabilillah
: ia sudah tahu ramuan cinta yang firdaus
juga rejam rintangan itu

jangan dinanti
orang yang pergi
ke sabilillah
: ia sudah tahu ke mana
harus menjual nyawa

Anda juga dapat menemukan cita rasa keindahan bahasa yang amat tinggi dalam tulisan-tulisan alm. ustadz Rahmat Abdullah, misalnya dalam artikel-artikelnya di majalah Tarbawi.  Ketika membahas masalah-masalah politik, ekonomi, sejarah, sosial dan kemanusiaan, keindahan bahasa tidak ditinggalkan.  Beliau memang bukan sastrawan, tapi cita rasa bahasanya tidak bisa dianggap kalah oleh kaum penyair.  Keindahan bahasa adalah cermin dari keindahan isi hatinya.

Bagaimana dengan Al-Qur’an? Aduh, saya tidak mampu memilih. Semua ayat di dalamnya memiliki nilai keindahan. Tidak mungkin bagi saya untuk memilih salah satu di antaranya sebagai representasi keindahan bahasa, karena semuanya indah. Kalau memang harus menyitir sebagian saja, maka dengarkanlah firman-Nya ini :

Wahai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Rabb-mu dengan ridha lagi di-ridhai-Nya
Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku
Dan masuklah ke dalam surga-Ku
(Q.S. Al-Fajr [89] : 27 – 30)

Bagaimana dengan tutur kata kita? Sudahkah kita memperhatikan keindahan bahasa kita? Sudahkah kita berbicara dengan indah dan menulis dengan cara yang indah pula? Sudahkah hati kita dipenuhi dengan keindahan?

wassalaamu’alaikum wr. wb.



Dikirim pada 27 Januari 2009 di budaya
comments powered by Disqus
Page
widget
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 152.751 kali


connect with ABATASA